Achieving the Dream Alongside of You

Wednesday, May 19, 2010

“Cepat sedikit bisa tidak?!” bentak Dylan di tangga menuju lantai yang dimaksud Larry.

Larry terengah-engah tak sanggup berlari lagi. Ia berhenti dan membungkukan tubuhnya.

“Bisa kau pelankan langkah kakimu?” pinta Nick yang juga lelah, “Kita sudah berlari sejauh ini, dan kita sedang menaiki tangga! Bisa tidak kita hanya berjalan saja?”

Dylan dengan sadisnya menggeleng, “Kalian membuang waktu...”

Nick menatap Dylan tak percaya, “Hei, kau ini bukan manusia ya? Lihat! Kita sudah melewati lima lantai dengan berlari, dan disana masih ada ribuan anak tangga lagi untuk dinaiki lagi! Dan kau memaksa kami untuk terus berlari...”

“Aku tidak minta kamu untuk ikut,” ujar Dylan ketus, ia melihat ke arah Larry, “Larry, ayo cepat! Jangan buang-buang waktu!”

Larry tidak juga beranjak.

“Kau jangan memaksanya seperti itu, lihat saja mukanya saja sudah merah seperti itu! Kau itu robot yang kejam,” sergah Nick yang terduduk di anak tangga karena kelelahan.

Dylan merengut kesal, dia menatap Larry, “Apa masih jauh?”

Larry menggeleng, “Tidak.”

“Then? Berlari sedikit saja tidak masalah kan?” ujar Dylan yang sepertinya kembali mau menyeret paksa Larry.

“Tunggu...” pinta Larry, “A...aku boleh meminta to...tolong sesuatu?”

Dylan dan Nick berpandangan.

“Ada apa Larry?” tanya Nick.

“To...tolong kalian menja...jamin keselamtanku...” pinta Larry, “Setelah ini Ni...Nicole pasti tak i...ingin aku mun..muncul lagi di ha...hadapannya...”

“Ah, soal itu!” kata Nick, “Aku tak bisa. Maafkan aku Larry.”

Muka Larry yang tadinya merah menjadi pucat seketika.

“Ketua Murid macam apa kau ini?” sindir Dylan.

“Aku tak bisa apa-apa tahu!” balas Nick kesal, “Aku sudah kenal Nicole sejak dia masih bayi! Dia bisa berbuat apa yang dia mau tanpa sempat aku bisa mencegahya. Meski aku Ketua Murid, aku tak bisa terus-terusan berada di samping Larry. Bahkan Lyla, aku sudah meminta Nicole menjauhi Lyla. Tapi sekarang lihat, dia bahkan tak mendengarku sama sekali.”

Dylan masih menatap Nick sinis. Ia kemudian beralih pada Larry dan menepuk-nepuk tengkuknya, “Tenang saja. Jika Ketua Murid gadungan itu tak mau, aku yang akan menjamin. Sekarang yang penting kau membantuku menolong Lyla.”

Larry memandangi Dylan ragu.

“Percaya padaku, aku punya otoritas lebih tinggi dari bocah Ketua Murid payah itu,” tambah Dylan lagi.

Larry mengangguk percaya. Sementara Nick berdecak kesal dibilangan gadungan dan payah.

Dylan langsung menarik Larry, “Ayo cepat sekarang!”

Saat Dylan dan Larry—yang terseok-seok—kembali lari, Nick bangkit.
“Hei tunggu aku!”

Mereka bertiga tiba di sebuah lorong yang tampak kekurangan pencahayaan. Larry menunjuk ke sebuah pintu usang di sisi lorong.

“Itu, ruangan yang... i..tu!”

Dylan dan Nick langsung menghambur ke sana.

“Sial! Terkunci!” seru Nick kesal mencoba membuka pintu.

Dasar bodoh, ledek Dylan dalam hati kesal, jika tidak terkunci buat apa Lyla terkurung di sana?

Saat Nick hendak mendobrak pintu itu, Dylan menahannya.

“Kenapa? Kita harus cepat membuka pintu ini!” ujar Nick.

“Pintu ini berat di bagian bawahnya,” ujar Dylan yang lalu jongkok.

“Hah?” Nick heran melihat Dylan mengetuk-ngetuk permukaan pintu dari atas sampai bawah.

“Ada yang menyender di pintu ini...” jelas Dylan mengetuk-ngetuk bagian bawah permukaan pintu, “Dia menyender sambil duduk.”

“Itu pasti Lyla,” simpul Nick cemas.

“Ya, dan coba bayangkan kalau kau tadi mendobrak pintu ini...” tambah Dylan memandang Nick sambil mengejek, “Kau pasti akan melukainya.”

Nick tertunduk menyesal, untung tidak jadi... pikirnya dalam hati. Ia lalu menatap pintu itu cemas, “Lalu bagaimana kita membuka pintu ini? Oh ya! Mr. Jenkins!”

Dylan melihat Nick bingung. Mr. Jenkins adalah penjaga sekolah.
“Mr. Jenkins pasti punya kunci pintu ini!” seru Nick, ia beralih ke Larry, “Larry, panggilkan Mr. Jenkins!”

Dylan mencegah, “Tidak perlu! Kau mau menyuruhnya menuruni tangga mencari orang lalu berlari kembali lagi kesini? Dia pasti pingsan duluan di jalan...”

“Kalau begitu biar aku saja!” Nick menawarkan diri dan bersiap untuk pergi.

“Kubilang tidak usah!” Dylan masih menahan Nick. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Itu dompet. Ternyata di dompet itu terdapat beberapa peralatan, Dylan mengeluarkan sebuah kawat mungil bengkok.

Tanpa disadarinya sebuah benda jatuh juga dari dompetnya. Nick langsung memungutnya dan ketika melihat benda itu Nick heran, “Lencana?”

Dylan memasukkan kawat itu ke lubang kunci pintu, ia menggoyang-goyangkan kawat itu dan tak lama kemudian terdengar suara.

Cklik.

Kuncinya sudah terbuka. Dengan hati-hati Dylan mendorong pintu itu. Memang terasa berat, karena ada tubuh yang menahan pintu itu terbuka namun Dylan berhasil membukanya sedikit untuk masuk ke dalam.

Begitu di dalam ruangan Dylan terkejut melihat Lyla yang wajahnya sudah pucat membiru. Namun ia lebih terkejut lagi saat ia mendapati ruangan itu ternyata sangat dingin.

Setelah Dylan memindahkan Lyla, Nick dan Larry bisa masuk ke dalam.

“Tempat ini!” seru Nick kaget, “Kenapa bisa sangat dingin begini?!”

“Larry, tempat apa saja yang ada di sebelah utara ruangan ini?” tanya Dylan yang melepas jasnya dan menyelimutinya di tubuh Lyla. Nick juga turut memberi jasnya.

Larry mengingat-ingat... “Emm... a...ada ruang musik, te...terus dapur, terus ku...kulkas utama ge...gedung.”

Pantas saja!

Dylan berdiri sambil menggendong Lyla, “Dia tidak apa-apa. Hanya hipotermia ringan. Aku akan membawanya ke bangsal perawatan.”

₯₯₯

“Dia sudah stabil...” ujar Mrs. Helen guru Kelas Biologi yang merangkap sebagai Kepala Bangsal Perawatan.

Nick menghembuskan nafas lega dan akhirnya terduduk di samping Dylan yang memejamkan mata, “Bangunlah. Lyla sudah stabil sekarang.”

“Ya... aku dengar itu...” ujar Dylan yang terus memejamkan matanya, ia mengantuk namun tak bisa tidur.

“Sebenarnya kamu hubungannya apa dengan Lyla?” tanya Nick harap-harap cemas.

“Apa yang kau harapkan?”

“Aku berharap kau kakaknya, namun kau sekelas dengan Lyla. Aku berharap kau saudara kembarnya atau sepupunya, namun tampaknya ras kalian saja beda jauh. Aku berharap kau hanya...”

“Tunangannya,” jawab Dylan santai. Ia benar-benar ngantuk sekarang namun kali ini ia bisa lebih tenang untuk tidur.

Nick terlihat kecewa, “Aku tidak berharap itu.”

Dylan hanya berharap bisa segera tidur dengan nyenyak namun orang di sebelahnya terus menerus merecokinya. Ia berusaha menahan sabar.

“Karena aku sudah sejak lama naksir Lyla,” lanjut Nick lagi dengan full senyum, “Dan aku masih menyukainya sampai sekarang. Jadi, jika ternyata Lyla terpaksa bertunangan denganmu aku akan merebutnya darimu dengan senang hati.”

Kali ini rasa kantuk Dylan hilang, namun rasa kesalnya semakin bertambah banyak. Akulah yang terpaksa bertunangan dengannya dan semua ini gara-gara Mom!

Nick yang melihat Dylan tak menunjukkan respon sama sekali kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Benda yang ia pungut saat jatuh dari dompet Dylan, “Kau merasa kehilangan sesuatu?”

Dylan menoleh. Saat ia melihat lencana FBI nya ada di tangan Nick, buru-buru ia merebutnya.

“Kelihatannya itu penting sekali. Itu lencana asli kan? Itu lencana apa?” cerocos Nick.

“Kau takkan percaya,” jawab Dylan yang segera memasukkan lencananya ke dalam dompet praktis.

“Aku tahu itu lencana asli. Aku tahu itu lencana FBI. Dan aku tahu itu pasti punyamu...” Nick langsung menyahut.

“Kalau kau tahu buat apa kau bertanya?” kesal Dylan.

“Tidak, aku hanya ingin tahu apa kau anggota FBI?”

“Yang benar saja,” Dylan mengelak, “Kau pikir seorang pemuda 18 tahun yang baru menginjak bangku SMA akan menjadi anggota FBI? Kau ini sangat bodoh ya?”

Nick menatap Dylan menantang, “Kau menganggapku bodoh ya? Tapi aku percaya padamu. Kau bukan pemuda biasa. Ketika aku melihatmu menyudutkan Nicole, aku merasa kau pasti sudah terbiasa dengan taktik interogasi.”

“Omong kosong,” bantah Dylan.

“Saat kau berlari tanpa lelah, kau pasti sudah terbiasa mengejar penjahat...”
“Kau termakan film action.”

“Dan saat kau membuka pintu ruangan tempat mengurung Lyla dengan mudah, pasti biasa kau lakukan buat masuk ke tempat penyergapan penjahat kan?”

Dylan cuma diam, ia mulai malas menanggapi Nick.

“Dan saat kau membuat analisis, kau bahkan bertanya apa saja ruangan di sebelah utara tempat menyekap Lyla.”

“Asap.”

“Hah?”

“Ventilasi kamar mandi itu bolong dan mengeluarkan asap. Sepertinya itu terhubung ke suatu tempat. Asap yang keluar itu kabut dari es yang menguap. Asapnya lebih banyak di sebelah kanan, alias sebelah utara ruangan dari pada sebelah kiri. Pertanda sebelah utara ada ruangan yang bersuhu ekstrim dingin, dan sebelah selatan itu luar gedung karena asapnya tipis berarti mengandung angin,” jelas Dylan.

“Tuh kan!” seru Nick sambil menyeringai nakal, “Kau benar-benar bukan murid biasa.”
Dylan memutar matanya kesal.

“Jujur saja, aku tahu lencana itu asli! Aku sudah terbiasa dengan lencana, Dad polisi dan Mom...” Nick terlihat ragu melanjutkan. Tapi ia terus melanjutkan sambil mengangkat bahu, “Mom pemalsu lencana.”

“Ibumu kriminal,” ucap Dylan singkat.

“Ya, aku tahu.”

“Ayahmu juga.”

“Tidak!” bantah Nick, “Dad benar-benar polisi.”

“Sedangkan istrinya kriminal?” tanya Dylan, lebih kepada pertanyaan menyelidik.

Nick langsung mengerti apa yang dimaksud Dylan, “No! My Dad is real Police Officer! Dia sudah menjadi polisi sebelum bertemu Mom. Lencananya asli, bukan Mom yang buat.”

“Then?”

“Dad tidak tahu Mom seorang pemalsu lencana karena Dad sering bertugas. Ketika ia tahu Mom seorang pemalsu lencana, mereka bercerai. Nicole ikut Mom, dan aku ikut Dad. Tapi lewat pengadilan, Dad memenangkan Nicole...”

“Bukan itu yang kutanyakan,” ujar Dylan dingin, “Apa ayahmu tak menangkap ibumu ketika ia mengetahui istrinya seorang kriminal?”

Nick menatap Dylan tak percaya, “Bagaimana mungkin? Tak mungkin Dad menangkap Mom!”

“Kalau begitu ayahmu sudah bertindak tidak profesional,” sahut Dylan dingin, “Setiap kriminal wajib mendapatkan hukuman. Siapapun orangnya.”

“Aku sungguh tak ingin Lyla mendapatkan pria sepertimu...” Nick masih menatap Dylan heran, “Kau benar-benar pria tak berperasaan.”

“Dan itulah yang dibutuhkan seorang Polisi,” ujar Dylan berusaha menekan perasaannya kuat-kuat saat nama Lyla disebut, “Aku memang seorang FBI.”

₯₯₯

Lyla merasa berada di sebuah ruangan gelap semua. Apa aku sudah mati? Tanyanya pada diri sendiri.

Tak lama sebuah bayangan putih mendekat. Itukah malaikat yang akan membawaku bertemu Ibu dan Ayah?

Ia lalu menyadari bahwa bayangan putih yang mendekat itu adalah kakaknya, tangisnya pun pecah.

“Kakak....!” teriaknya, “Kak Kevin mengapa meninggalkan Lyla sendiri?! Kakak sudah berjanji akan menjagaku! Kakak bohong! Kakak meninggalkan Lyla!”

Kevin tersenyum manis, “Kapan aku berbohong? Aku memang selalu melindungimu. Coba buka matamu dan kau akan melihat bahwa aku selalu melindungimu...”

“Buka mata?” tanya Lyla bingung dan kesal, “Aku sudah membuka mataku kak!”
Kevin menggeleng, bayangan dirinya mulai samar, “Tidak. Kau belum membuka matamu... bukalah Lyla...”

Ketika bayangan Kevin benar-benar hilang Lyla menyadari matanya masih terpejam. Perlahan ia membuka matanya dan melihat sesosok wajah tepat di depan matanya.

“Aaaaa!” Lyla terlonjak kaget. Buru-buru ia bangun dan merangsek mundur ke bagian belakang kasurnya, “Kamu...kamu kenapa bisa disini...?!”

“Kamu menggigau...” ujar Dylan santai lalu kembali ke tempat duduknya. Ia tadi memang memandangi wajah Lyla dari dekat, karena tadi Lyla terlihat berkeringat dan terus-menerus menggigau.

Lyla masih tak percaya dan menatap Dylan dengan tatapan yang aneh.

“Jangan melihatku terus seperti itu!” bentak Dylan kesal.

Lyla langsung yakin yang ada di hadapannya adalah Dylan saat mendengar Dylan mengomelinya. Ia lemas, jauh-jauh pergi ke Carlisle agar bisa menghindari Dylan sekarang orangnya malah ada disini.

“Jangan salah paham dulu!” kata Dylan ketus, “Aku disuruh Mom untuk menyusulmu kesini memastikan apakah kamu baik-baik saja disini. Ternyata tidak. Aku kecewa.”
Lyla cemberut dan memandang Dylan kesal. Ia baru sadar sesuatu, “Ini dimana? Aku di bangsal ya?”

“Kau terkena hipotermia, tak heran dengan sifatmu yang suka mencelakakan dirimu sendiri dan ceroboh...” jelas Dylan tanpa lupa menggerutu.

“Kacamata...,” ucap Lyla mencari-cari sesuatu di meja, “Dimana kacamataku?”

“Oh, benda jelek itu. Sudah kubuang,” sahut Dylan lagi.

Lyla membelalak, “Dibuang? Kemana?”

“Ya dibuang! Aku kan tak tahu kau pakai kacamata jadi kubuang saja benda itu karena kupikir benda itu sampah...”

“Ck! Sekarang bagaimana aku bisa melihat?! Kau ini bodoh ya?!” decak Lyla kesal dan panik.

“Kau yang bodoh!” balas Dylan yang sebal dibilang bodoh, “Coba, sekarang kau bisa melihat seperti itu dibilang tak bisa melihat!”

Lyla langsung menyadari pemandangannya tiba-tiba jelas. Ia langsung menyadari ada yang aneh pada matanya, contact lens?

“Aku mau bertanya, sejak kapan kau pake kacamata tebal seperti itu?” selidik Dylan.

“Itu... itu...” Lyla kelihatan kesusahan menjelaskan, “Saat kelas dua SMP. Mataku tiba-tiba buram.”

“Kenapa kau tak membeli kacamata murahan seperti itu? Kemanakan uang yang Mom kasih?” tanya Dylan sembari menatap Lyla tajam

Lyla bingung mau jawab apa. Saat itu Mom membekalinya terlalu banyak uang. Itu menarik perhatian Terry, anggota klub rugby, dan dia merebut uangnya semua. Tapi tak mungkin ia menceritakan itu pada Mom. Bisa-bisa Mom akan mendatangi kepala sekolah dan meminta Terry dikeluarkan. Hal itu jelas menambah akan memperburuk masalahnya, “Uang itu hilang.”

“Hilang?” Dylan masih menginterogasi Lyla, “Uang sebanyak 12.000 pound hilang begitu saja?”

“Bukan salahku!” bela Lyla, “Aku tidak ingin membawa uang sebanyak itu. Kau kan pintar, masa kau tak tahu uang itu hilang kemana?!”

“Sekarang aku mau tidur dulu,” ujar Dylan bangkit pura-pura tak habis melakukan sesuatu. Padahal dia yang memakaikan Lyla kontak lensa selama Lyla pingsan, “Istirahatlah yang banyak. Yang banyak sekali hingga kau tak sempat membuat masalah lagi dan membuatku repot.”

Kemudian Lyla melihat Dylan membangunkan seorang cowok yang tertidur di sofa. Itu Nick.

“Hei bangun!” perintah Dylan, “Kau ini kan Ketua Murid. Mana boleh kau tertidur disini dan bolos mengawasi murid-murid!”

Nick menggeliat, tak segera bangun. Lyla yang kenal sifat Dylan sudah menebak apa yang akan dilakukan Dylan.

Dylan mendekati kuping Nick, “BANGUUUUUN!!!!”

Nick terlonjak kaget. Sementara penghuni bangsal perawatan yang lain pada menggerutu dan bedecak kesal pada Dylan yang cuek dan seolah tak tahu tempat berteriak.

Lyla tersenyum, ia tahu Dylan adalah orang yang dikirim kakaknya untuknya. Tapi ia benar-benar tak ingin Dylan orang yang dikirimkan kakaknya untuknya.

₯₯₯

Sudah seminggu sejak penyekapan, kini Lyla sudah bisa sekolah lagi. Sejak tiga hari yang lalu Lyla menyadari bahwa ia akan terus sekelas dengan Dylan. Itu berarti masalah buatnya karena Dylan—yang duduk disampingnya—selalu tidur di kelas dan membuatnya ditegur guru-guru agar membangunkannya. Hal itu tidak gampang. Dylan tak pernah suka dibangunkan saat tidur, makanya ia jadi serba salah.

Lyla berjalan ke ruang makan dengan berbagai buku di tangannya. Ia sudah ketinggalan banyak sekali pelajaran dan pekerjaan kamar, jadi sebisa mungkin belajar dimanapun ia berada.

BRAK!!!

Tanpa sengaja Lyla menabrak seseorang bertubuh tegap. Buru-buru ia jongkok dan membereskan bukunya. Mati aku! Pikirnya.

“Maaf... maafkan saya. Saya sungguh tak sengaja!” pinta Lyla tak berani menatap orang yang ia tabrak.

“Lyla?”

Lyla mendongak merasa dipanggil. Rupanya orang yang ia tabrak adalah Nick.
Nick tersenyum dan membantu Lyla berdiri, “Kau tak apa-apa?”

Lyla menggeleng. Ia benar-benar ingin pergi. Kalau ada yang melihatnya berdua dengan Nick, cowok paling populer, bisa tambah runyam lagi masalahnya. Ia juga yakin Nicole belum memaafkannya atas insiden yang terakhir.

“Kau mau kemana?”

“Ruang makan,” ujar Lyla cepat dan gelisah. Menatap sekeliling berharap tak ada satupun dari geng Nicole yang suka menjahilinya sedang melihatnya.

“Kebetulan sekali!” seru Nick tampak senang, “Aku juga mau kesana. Bagaimana kalau kita kesana bareng?”

Lyla cuma termangu. Mampus!

Karena tak menjawab, Nick merasa Lyla setuju. Ia menggandeng tangan lyla seenaknya sehingga membuat Lyla hampir yakin kalau Nicoole and the genk takkan membiarkannya hidup lama besok.

Sesampainya di ruang makan, Lyla diperlakukan bak ratu oleh Nick. Nick bahkan menarik kursi buat Lyla, membuat Lyla merasa amat aneh.

“Kau tak perlu melakukan ini Nick,” ujar Lyla risih saat duduk di kursi yang disediakan Nick.

“Tidak aku mau. Sudah lama aku tak melakukan ini padamu Lyla,” balas Nick yang langsung duduk di hadapan Lyla.

Lyla tidak sanggup berkata apa-apa. Nick, Ketua Murid yang merupakan cowok paling populer di sekolah, kini kembali menjadi Nick yang dulu. Nick lima tahun lalu yang bersahabat dengannya. Lyla lebih mengkhawatirkan pandangan orang lain terhadapnya saat ini. Para cewek takkan mengizinkannya mengobrol dengan Nick walaupun hanya sepatah kata. Ini, dia bahkan satu meja bareng.

“Kacamatamu, kamu melepasnya?” tanya Nick yang tertidur saat Dylan memakaikan Lyla contact lens.

Lyla mengangguk tak bersuara. Ia memandang sekeliling berharap tak ada yang melihat ke arahnya sekarang dengan pandangan seram.

“Baguslah, kau lebih cantik seperti itu,” ujar Nick sambil memuji. Ia berharap bisa melihat semburat merah di pipi Lyla, tapi bahkan sepertinya Lyla tak mendengar pujian Nick barusan. Lyla terlihat tak nyaman dan mengkhawatirkan sesuatu. Nick memahami apa yang ditakutkan Lyla saat ini, sesuatu yang membuatnya terpaksa memutuskan tali persahabatannya dengan Lyla, “Kau tak usah takut mengobrol denganku, atau satu meja denganku. Aku sudah bukan cowok terpopuler lagi.”

Lyla menoleh ke Nick yang tersenyum manis. Bingung dengan perkataannya.

“Kepopularitasankku sudah direbut,” jelas Nick sambil menunjuk ke arah meja di sebelah selatan mereka duduk. Di situ cewek-cewek berebut duduk di samping seorang cowok, “Tuh, sama tunanganmu.”

Lyla melihat ke arah yang ditunjukkan Nick. Di situ ia melihat Dylan sedang dikerubungi para siswi. Wajahnya terlihat sangat masam, dan sebal. Tentu saja, Dylan paling benci diganggu saat makan. Lyla sampai geli melihat wajah Dylan yang cemberut itu.

“Kau menyukainya ya?” tanya Nick lagi.

“Hah?” Lyla kembali menatap Nick.

Nick memandangi Lyla lama, “Matamu berbinar-binar saat kau melihat dia. Aku tak pernah melihat matamu secemerlang itu sebelumnya...”

Lyla menunduk malu. Wajahnya langsung merah padam, “Ti... tidak...”

Nick hanya tersenyum tipis, semburat merah itu.... kenapa harus Dylan yang memilikinya? Seberapa lama kau dan dia saling mengenal? “Kau semakin manis kalau wajahmu memerah seperti itu...”

“Kau ini kenapa tiba-tiba jadi aneh Nick?” tanya Lyla yang heran dengan Nick yag sedari tadi memujinya terus.

Aku juga tak tahu, batin Nick dalam hati. Selama ini dia hanya bisa melihat Lyla dari jauh, dan ketika ia melihat Lyla tak pernah begitu dekat dengan cowok, Nick merasa tenang. Ia terus mengawasi Lyla dari jauh, hanya mengawasi, tak bisa mendekatinya lebih jauh lagi. Tapi kini datang cowok yang hampir sempurna, Dylan, dan ternyata dia adalah tunangan cewek yang hampir lima tahun ia cintai, jelas perasaannya tak bisa begitu tenang lagi. Ia merasa harus bertindak.

Tanpa sadar tangannya bergerak ke arah gelungan rambut Lyla, dan perlahan membuka ikat rambut Lyla, “Kau akan lebih cantik lagi dengan rambut digerai seperti ini...”

Setelah membuka gelungan rambut Lyla dan membuat rambut hitam Lyla jatuh ke bahunya, tangan Nick bergerak untuk menyisipkan rambut Lyla ke telingannya, menyingkirkan rambut Lyla helai demi helai dari wajahnya, hingga lama-lama tangannya mengelus pipi Lyla.

Dari mejanya, Dylan ternyata sedari tadi memperhatikan mereka berdua tanpa mereka menyadarinya. Emosinya menggelegak tanpa sebab. Ia marah dan menaruh piringnya dengan kasar lalu bangkit dari meja. Menyingkir dari pemandangan itu.

“Nick...” sergah Lyla yang merasa gusar dengan perlakuan Nick.

Nick yang baru sadar langsung menjauhkan tangannya, “Oh... maaf.”
Bodoh, bodoh! Rutuk Nick dalam hati. Kenapa ia bisa sampai kelewaan tadi ya?



Dylan menyusuri lorong sekolah yang sepi dengan hati yang panas. Ia merasa marah, dan begitu emosi saat melihat Lyla dan Nick yang begitu akrab. Mungkin karena ia tahu Lyla tidak pernah dekat dengan orang lain selain dirinya, begitu juga sebaliknya. Entah kenapa ia merasa dipermainkan, dikhianati. Ia tak tahu kenapa harus marah. Seolah-olah ada yang merebut miliknya yang sangat berharga. Kejeniusannya pun tak mampu menjelaskan isi hatinya saat ini.

Dylan berhenti, tapi tunggu dulu! Kenapa aku harus marah? Pikirnya. Aku tak punya perasaan apa-apa dengan Lyla, kenapa aku harus merasa terganggu? Buat apa? Tak ada apa-apa kan? Ini bukan masalah yang penting, jadi aku tak usah memusingkan masalah ini! Untuk sesaat ia merasa kembali tenang. Ia lalu kembali jalan lagi menuju kamarnya.

Namun sekelebat bayangan pemandangan Nick dan Lyla kembali muncul di kepalanya, dan juga ia tiba-tiba teringat perkataan Nick yang akan merebut Lyla darinya, hatinya panas lagi. Ingin marah tapi logikanya mengingatkan kalau ia tak punya perasaan khusus pada Lyla.

“Arrrghhh....!” Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Masa bodoh! Jangan pikirkan hal ini lagi! Perintahnya pada diri sendiri.

Ia meneruskan jalannya, namun ia terhenti lagi. Kali ini bukan masalah pertarungan batinnya. Ia mencium sesuatu. Bau anyir yang sudah sangat dikenalnya setiap kali ia kerja lapangan, ini... bau anyir darah!

Ia menyadari kalau lorong yang dilewatinya ternyata sepi orang. Instingnya mengarahkannya untuk berlari ke sumber bau anyir itu. Karena intuisinya yang tajam, ia tahu dengan pasti belok ke lorong yang mana untuk menemukan sumber tersebut.
Ketika ia sudah melewati tiga belokan, bau anyir itu semakin tajam. Ia lari lagi dan lorong yang dilewatinya semakin gelap dan sepi, kemudian berbelok ke kanan dan ia langsung menemukan pemandangan yang menyeramkan.

“Damn!” makinya.

Sesosok tubuh terbaring kaku. Dari perutnya keluar banyak darah dan hampir menggenangi seluruh lantai di lorong tersebut.

Dylan mendekatinya tanpa rasa takut sedikitpun. Ia penasaran dan melihat bahwa tubuh itu ternyata tubuh seorang murid laki-laki Convinient High School. Perutnya sobek lebar, seperti ditusuk oleh benda tajam yang panjang. Analisis Dylan sementara mungkin semacam samurai. Ia memperhatikan tubuh yang sudah mengeras itu dari bawah ke atas, dan mendapati sesuatu yang menarik perhatiaannya. Mulut mayat terkatup dan pipinya mengembung seperti sedang menyimpan sesuatu di dalamnya.
Dylan baru hendak mengambil apa yang ada di dalam mulut mayat itu sebelum sebuah sinar yang menusuk mengarah ke arahnya. Itu sinar senter.

“Apa yang kau lakukan disitu?” tanya yang mengarahkan sinar tersebut. Mr. Jenkins, penjaga sekolah yang sedang berkeliling memeriksa lorong.

Saat sinar itu turun ke bawah, Mr. Jenkins baru melihat apa yang ada di hadapannya. Ia gemetar ketakutan dan menjatuhkan senternya.

“Oh... Tuhan!” desisnya langsung berlari meninggalkan lorong.

Dylan langsung tahu ia akan kena masalah yang lumayan berat.

Thursday, May 13, 2010


Convinient High School Character….

Sebenarnya karena ini kisah fiksi buatan aku sendiri, actor-aktor dibawah ini sama sekali belum pernah bermain karakter yang aku buat...
Tapi karena aku pengen karakter yang aku buat hidup, makanya aku bikin kayak film.
Berikut tokoh-tokohnya:

Nolan Gerard  a.k.a Dylan McMillan
Dylan ini adalah tokoh sentral di cerita ini. Dia adalah tokoh yang jenius, cuek dan sedikit (apa banyak?) pemarah. Punya dua identitas. Identitas pertama adalah seorang cowok 19 tahun biasa yang kaya raya dan gak pernah sekalipun menginjak bangku sekolah karena dilarang oleh Mom-nya, meski begitu dia tergolong jenius dan gemar melahap buku-buku berat koleksi Ayahnya, maniak komputer dan hal-hal berbau science. Satu-satunya kelemahannya adalah dia buta seni. Identitas kedua dia adalah anggota FBI termuda yang menjabat sebagai Ketua Divisi Intelligence merangkap Ketua Divisi Cyber Crime. Intuisinya sebagai detektif tajam dan tak ada yang boleh mengusik identitas rahasianya. Tak mempercayai hal-hal yang tak bisa dibuktikan oleh logika baik itu berupa keajaiban atau agama. Kadang sikapnya bisa mempengaruhi lingkungan sekitarnya, dan itu ‘rada’ menakutkan. Sangat mengidolakan sosok Ayahnya yang sekian lama menghilang.



Lee Yeon Hee a.k.a Lyla William
Gadis manis berdarah asia ini adalah tunangan Dylan sejak mereka masih kanak-kanak. Punya masa lalu yang tragis yang menyebabkannya kehilangan seluruh anggota keluarganya. Setelah itu ditampung di rumah Dylan. Dijuluki ‘magnet masalah’ oleh Dylan karena sejak tinggal dirumah Dylan selalu membuat masalah yang menyebabkan Dylan juga yang harus turun tangan. Karena merasa merepotkan Dylan dan Mom-nya, Lyla memilih menjauh dengan sekolah di sekolah asrama Convinient High School. Meski cuek Dylan juga merasa ‘sedikit’ kehilangan Lyla selama Lyla bersekolah disana. Sifatnya yang penasaran, dan keras kepala menyebabkannya sering terkena masalah. Bertolak belakang dengan Dylan, Lyla sangat menggemari seni dan lumayan berbakat dibidang tersebut.





Chace Crawford a.k.a Nick Jhonshon
Ketua Murid Convinient High School yang baik hati ini sebenarnya dulu sahabat dekat Lyla. Namun sejak dipilih menjadi Ketua Murid, kepopulerannya sedikit demi sedikit menghapus persahabatannya dengan Lyla yang notabene gak populer. Dia naksir Lyla sejak lama dan mendapat kesempatan untuk melakukan pendekatan ke Lyla lagi ketika kepopulerannya direbut Dylan setibanya Dylan di Convinient High School. Atheis dan dalam pencarian Tuhan.





Tomohisha Yamashita a.k.a Seiji Amano
Seiji ini adalah pemuda jepang Muslim yang merupakan mantan Ketua Divisi Investigasi dan Penyelidikan FBI. Mengundurkan diri dari FBI karena alasan menikah, yang menurut Dylan alasan paling konyol yang pernah dia dengar. Satu-satunya saingan Dylan dalam hal kejeniusan merangkap sahabat Dylan yang paling dekat. Sifatnya kocak, jail, dan bikin Dylan marah adalah hobi-nya. Di dalam cerita ini dia adalah partner Dylan yang banyak membantu



Sara Paxton a.k.a Nicole Jhonshon
Dia adalah saudara kembar Nick Jhonshon dan merupakan gadis paling populer seantero sekolah. Tipe gadis populer yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Menurut Nick, Nicole adalah gadis yang mengerikan dan tak terduga kalau sedang marah atau iri. Namun meski begitu Nick sangat menyayangi saudara perempuannya ini. Sangat membenci Lyla karena Lyla yang keras kepala, dan berhasil mendapatkan perhatian dari Dylan (soalnya belum tahu kalau Lyla tunangannya Dylan).






 Gui Gui a.k.a Gwen Chang 

Sahabat Lyla sejak pertama kali Lyla masuk sekolah. Anggota  klub drama yang periang dan cerewet. Sedikit tomboy dan galak.



Kim Cattral a.k.a Cathrine McMillan (Dylan’s Mother)
Biasa dipanggil Mom oleh Dylan dan Lyla. Sifatnya keras kepala namun periang. Punya rahasia yang tidak diketahui oleh Dylan dan Lyla yang membuatnya merasa sangat bersalah pada Lyla. Sangat menyayangi Lyla dan menganggapnya anak sendiri. Phobia sama polisi (coba dia tahu anaknya anggota FBI hehe...), dan memiliki banyak maid-maid perempuan di rumahnya yang sangat luas. Pekerjaannya adalah Presiden Direktur sebuah Perusahaan Software Komputer yang didirikan suaminya (wajar Dylan jadi maniak komputer )


 


Hehe... gimana???
Cocok gak?
Aku terbuka dengan saran kok! Apalagi banyak yang kutulis ‘unknown’ gara-gara belum nemuin actor yang tepat. Silakan di-comment ya!!!


Tuesday, May 11, 2010

Reformasi….

Mungkin judul di atas membuat kalian heran, aku juga heran, tapi karena lagi bingung nyari judul apa aja yang muncul di kepala di pasang aja (hehehe).

Sebelumnya nih, gals n guys aku mau minta maaaaf.....
Soalnya lama banget aku gak nge-post di sini. Soalnya kawan, pan aku lagi kelas 3, masa peralihan dari siswa SMA yang masih puber menuju Mahasiswa yang harus mulai mikir serius jadi aku mulai sibuk...
Sorry... sorry....
Tapi setelah semua kesibukan ini, Insya Allah aku mau rajin nge-post kok... Suer..

Setelah lama ga nge-post dan melanglang buana mampir ke blog orang, aku memutuskan untuk menambahkan beberapa feature, mengganti template dsb...
Soalnya kerasa banget kalo blog aku ini ‘kosong’, kurang keurus, makanya aku mengadakan reformasi (hehe... mulai nyambung ama judul) sebagai pertanda kalau aku mau mulai serius mengurus blog ini.
Aku ingin blog aku kaya punya Kak Putri yang banyak pengunjungnya, sampai puluhan ribu supaya aku juga bisa nyari kakak aku dengan lebih mudah (nyambung sama post sebelumnya).

Dan supaya gak kerasa garing, aku mau nambahin konsep baru ke blog nie, apakah itu....???

Jreng...jreng....!

CERITA SERIAL!

Yap, beberapa cerita buatan aku akan ku posting disini. Siapa tau aja ada penerbit yang tertarik buat nerbitin hehehe...

Jadi aku berharap kalian setia ya ngikutin perkembangan blog ini sampai aku berhasil nemuin kakak aku yang ilang...
Dua hari kemudian...

Dylan mengendurkan dasinya, risih. Heran, di zaman modern seperti ini masih saja ada sekolah yang menyuruh siswanya mengenakan seragam, gerutunya dalam hati.

Seragam Convinient High School untuk murid laki-laki adalah pakaian kasual, kemeja putih, ditutupi sweater tipis abu-abu tanpa lengan, dasi, dan jas. Sedangkan ceweknya, sama, hanya saja mereka menggenakan androk dan kaus kaki hitam, dasi mereka diganti pita.

Belum sekolahnya. Alasan yang paling membuat Dylan anti sekolah di Convinient High School adalah: meskipun Convinient High School adalah sekolah asrama terbaik di eropa, namun sekolah ini juga sekolah paling klasik—Dylan menyebutnya kuno—di seantero Eropa. Konsepnya, sekolah ini dulu adalah puri peristirahatan Ratu Inggris di Carlisle, tapi dengan cerita yang panjang tempat ini berpindah tangan dan dirombak menjadi sebuah sekolah tua. Sekolah tua dengan daya listrik yang sedikit, jaringan yang tidak jelas sehingga meskipun Dylan berusaha membawa modem dan laptop sakunya sekedar melanjutkan pekerjaan dari jauh jadinya mustahil karena begitu dayanya bertambah, listrik satu sekolah akan mati.

Belum lagi yang menyebalkan adalah tatapan mata seluruh murid cewek di sekolah ini begitu Dylan lewat, seolah-olah Dylan satu-satunya cowok yang pernah mereka temui. Tapi bukan Dylan namanya kalau ia tak cuek.

Dylan berhenti di depan sebuah pintu. Ia baca papan nama yang tertempel di sana, Math Class? Aneh, Mom bilang kalau Dylan akan mengambil kelas yang sama dengan Lyla, tapi Math Class? Lyla bukan tipe orang yang suka berurusan dengan Matematika dan angka, gumam Dylan dalam hati. Ia lalu tersadar, sial! Kenapa sejak tiba disini yang kupikirkan hanya Lyla?

Ia lalu langsung mengetuk pintu dan tak lama terdengar suara.

“Kau pasti murid baru itu. Masuk!” ujar suara itu

Dylan membuka pintu dan masuk. Setibanya di dalam dia dihadapkan dengan pemandangan yang menarik.

Murid-murid di kelas itu seolah-olah terbagi dua dengan sendirinya. Sebagian murid yang berada di depan bertubuh sedang sampai kecil, mengenakan kacamata tebal dengan kulit pucat berbintik-bintik atau mata sipit sibuk menekuni buku tebal di meja mereka masing-masing dan sebagian murid yang berada di belakang dengan postur tubuh yang ideal, sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang membaca majalah, bergosip, membetulkan make up, bermesraan, atau iseng mengerjai murid yang duduk didepan dengan melemparkan benda semacam karet penghapus dan lainnya. Dan Dylan heran mengapa mereka pasrah sekali dikerjai seperti itu.

“Anak-anak,” seru pria setengah baya yang terlihat lebih tua dari usia aslinya. Namun tampaknya murid-muridnya sama sekali tak mempedulikannya kecuali murid yang berada di depan yang sudah terpana melihat Dylan. Tak mau kehilangan image-nya di depan muridnya yang baru, pria itu mengeraskan suaranya lagi, “Ehm! ANAK-ANAK!”
Akhirnya semua menoleh ke depan dengan malas. Namun wajah mereka berubah saat melihat Dylan yang berdiri dengan cuek dan santai didepan kelas, apalagi yang cewek.
“Silahkan perkenalkan namamu di depan kelas Nak..” ujar si guru.

Dylan mendesah, merasa menjadi anak kecil lagi. Anggota FBI yang lagi
dipermainkan... keluhnya dalam hati, “Dylan McMillan.”

“Pindahan dari sekolah mana kamu nak?” tanya si guru.

“Tidak dari mana-mana,” jawab Dylan malas, “Aku tak pernah sekolah sebelumnya.”

Seisi sekolah terkejut. Untuk masuk ke Convinient High School, jika tidak kaya raya, maka kamu harus punya otak jenius. Dylan masuk lewat jalur yang pertama, dia kaya, dan Mom berhasil menyuap Kepala Sekolah agar dia bisa masuk ke sekolah.
Si guru terlihat kecewa, ia merasa akan ada murid lagi yang kerjanya duduk di belakang, sibuk dengan urusannya sendiri dan tak mempedulikan pelajaran karena sama sekali tak mengerti yang diterangkan. Ia lalu berniat menguji Dylan, “Jadi kamu Home Schooling?”

Tujuh tahun aku belajar bersama Dad, sisanya dengan Alfred selama tiga tahun, lalu otodidak lewat buku-buku Dad, “Bisa dikatakan begitu.”

“Kamu sudah mempelajari matematika sampai mana?” tanya si guru lagi.

Dylan memandangi si guru dengan tatapan aneh? Dia bercanda ya? Aku sudah menyelesaikan matematika tingkat lanjut sejak lima tahun yang lalu. Seharusnya aku yang balik bertanya dia sudah menguasai mata pelajarannya sendiri sampai mana.

Karena tak mendapat jawaban dari Dylan si guru beralih ke papan tulis dengan beberapa angka-angka yang dipotong dengan titik, grafik, dan huruf-huruf, “Bagaimana dengan ini? Apa kau mengerti sesuatu?”

Dylan terdiam menatap papan tulis. Seisi kelas tampaknya tegang, soalnya yang di papan tulis bukanlah pelajaran yang mereka pelajari saat ini, melainkan penelitian yang sedang dikerjakan oleh gurunya dan baru hendak dihapus.

Karena Dylan tak segera menjawab, sang guru langsung tersenyum remeh, “Jadi kurasa kau harus mengulang beberapa pelajaran...”

“Ini Algoritma Dijstrak bukan?” tanya Dylan dengan tatapan yang dalam ke arah si guru, “Algoritma dengan prinsip greedy yang memecahkan masalah lintasan terpendek untuk sebuah graf berarah dengan bobot sisi yang tidak negatif.”

Kali ini malah si guru yang terdiam.

“Algoritma yang merupakan salah satu varian bentuk algoritma populer dalam pemecahan persoalan yang terkait dengan masalah optimasi. Ada beberapa kasus pencarian lintasan terpendek yang diselesaikan dengan Algoritma Dijstrak, yaitu: a pair shortest path, all pairs shortest path, single-source shortest path, dan intermediate shortest path,” lanjut Dylan lagi, “Namun tampaknya anda melakukan kesalahan dalam Kompleksitas Waktu Algoritma, atau juga Running Timenya.”

“A...apa?”

Dylan menghampiri papan tulis dan menunjuk ke arah rumus yang tertulis, “Algoritma Dijkstra’ menggunakan waktu sebesar O(V*logV + E) dimana V dan E adalah banyaknya sisi dan titik. Anda salah disini, kompleksitas Algoritma Dijkstra adalah O(n2) bukan O(n3). Sehingga, untuk mencari semua pasangan semua pasangan total waktu asimptotik komputasinya adalah T(n) = n.O (n2) = O(n3).”

Seluruh isi kelas terdiam karena tercengang untuk waktu yang lama. Dylan menatap gurunya yang masih termangu dengan santai.

“Begitukan?” dia balas bertanya, “Tapi kalau aku salah, itu karena aku sudah tak mempelajarinya sejak lima tahun yang lalu. Mungkin ada yang kelewat dan terlupa, tapi karena algoritma adalah mengenai komputerisasi, aku menjamin aku takkan lupa satupun.”

Si guru tepuk tangan sambil tersenyum senang, yang lain mengikuti.
“Sekarang aku boleh duduk?” tanya Dylan.

“Silahkan, kau boleh ambil bangku mana saja! Ada dua bangku kosong di depan, pilihlah satu!” ujar gurunya masih dengan pandangan takjub ke muridnya yang baru, “Oh ya, kau boleh memanggilku Mr. Thompson. Aku guru kelas ini.”

Dylan tak peduli. Ia menatap kelas, dan merasa aneh, Lyla tak ada disini! Ujarnya dalam hati. Pelan-pelan ia melangkah ke bangkunya sambil matanya berputar mencari Lyla. Saat duduk ia sempat melihat ke salah seorang gadis asia yang duduk di ujung, memastikan apa itu Lyla. Gadis itu tersipu saat Dylan memandangnya cukup lama, namun sepertinya dia bukan Lyla. Lyla tidak punya tahi lalat di hidung, dan aku yakin lima tahun takkan merubah Lyla sampai begitu banyak. Tak mungkin dia Lyla. Dylan memalingkan wajahnya lagi, dan mulai merasa khawatir, gadis itu! Kemana dia? Apa aku salah kelas? Apa dia sakit? Ah, paling begitu! Kursi kosong sampingku pasti punya dia dan dia tak masuk kelas, aku tinggal memeriksanya di bangsal perawatan, beres!

Dylan menatap ke depan kelas berusaha menghilangkan perasaan khawatirnya.

Mr. Thompson menghapus papan tulis, “Baik. Mari kita melanjutkan pelajaran kita mengenai Teori Angka Bernoulli...”

Dylan yang malas mengulang pelajarannya saat ia masih berusia 7 tahun memilih tidur. Lagipula ia yakin Mr. Thompson takkan berani membangunkannya kecuali ia mau Dylan mengoreksinya lagi dalam masalah rumus Bernoulli.

₯₯₯

“Menurutku seluruh saksi memberikan keterangan yang benar...” ujar Seiji saat di TKP. Ia sengaja mendatangkan seluruh saksi yang ada di gedung apartment Senator Cliff saat kejadian ke TKP, “Kecuali satu orang...”

Semua saksi saling toleh-menoleh berusaha menebak siapa yang berbohong.

“Jadi siapa sebenarnya Sir?” tanya salah satu anggota FBI yang berada di TKP.

Seiji tersenyum senang, lagaknya bagai orang yang baru memenangkan lotere. Ia menatap satu persatu saksi dengan tajam sambil mondar-mandir padahal tak perlu ia lakukan. Seluruh saksi kini jadi makin gelisah, takut dirinya ditunjuk.

“Tuan Cleaning Service, anda dinaikkan statusnya dari saksi menjadi tersangka!” seru Seiji.

“A... apa?” sergah Petugas Cleaning Service kaget, “Mengapa aku? Aku sama sekali tidak berbohong!”

“Anda mengatakan anda tak mendengar suara apapun dari dalam apartment saat kejadian berlangsung, dan anda masuk begitu saja tak mendapati apa-apa di dalam juga masih tak mendengar suara apapun. Anda tak tahu korban sedang bergulat dengan pelaku di ruangan kaspel mini, dan karena itu ruangan pribadi Senator Cliff anda tak berani masuk dan hanya membersihkan ruangan tamu dan kamar saja. Betul begitu pengakuan anda?”

Petugas Cleaning Service mengangguk.

“Jadi kesimpulannya jika anda tak mendengar suara apapun, berarti pintu ini tertutup karena pintu kaspel mini ini kedap suara...” jelas Seiji, “Tapi...”
Semua cemas menunggu kelanjutan kata ‘tapi’ dari Seiji.

“Tahukah anda jika kita membuka pintu ruangan ini, dan berdiri di tengah-tengahnya kita bisa merasakan ada angin yang berhembus dari serambi dekat ruangan kaspel mini, masuk ke dalam kaspel?”

“Lalu hubungannya apa dengan kesaksianku?” tanya Petugas Cleaning Service itu mulai frustasi, “Mengapa aku dituduh sebagai tersangka!?”

“Lilin,” lanjut Seiji mengambil lilin yang biasa digunakan buat berdo’a orang Kristen dari dalam ruangan kaspel, “Lilin-lilin ini sudah mengatakan padaku bahwa anda telah berbohong.”

“Lilin? Bagaimana bisa lilin mengatakan padamu bahwa aku pelakunya?!” seru Petugas Cleaning Service kesal.

Seiji merengut, “Lilin-lilin tak mengatakan anda pelakunya, mereka hanya mengatakan anda berbohong. Anda sendiri yang mengatakan anda pelakunya dengan kebohongan itu.”
“Cepat katakan saja kebohongan yang kau maksud!” ujar saksi yang lain, “Kami ada urusan lain, jadi cepat kau katakan saja dan tangkap dia!”

“Sabar nyonya,” balas Seiji. Ia lalu mengangkat lilin itu kehadapan seluruh saksi, “Lihat, lilin ini masih panjang, dan dari waktu hitung lelehnya lilin ini baru dipasang kemarin sore, tepat saat pembunuhan terjadi. Jika kalian tak percaya aku bisa mengeceknya di lab. Kalian bisa melihat lelehannya....”

Seiji memutar lilin itu ke arah timur, “Tadi lilin ini menghadap kesini. Lelehannya menunjukkan bahwa ada angin berhembus masuk ke dalam kaspel dalam waktu yang cukup lama. Lelehannya jatuh ke sebelah selatan, berarti api menjilat lilin sebelah selatan karena ada angin yang bertiup dari arah utara. Jika dilihat dari lelehannya, dan suhu lelehannya mengeras, aku sudah memeriksanya, lelehan ini jatuh saat kejadian perkara. Jika ada angin yang menghembus masuk ke kaspel mini yang kedap suara, berarti itu pasti datang dari serambi sebelah utara ruangan kaspel mini. Dan itu juga membuktikan kalau pintu tak tertutup saat Kejadian Perkara. Jika pintu tak tertutup, berarti siapapun bisa mendengar suara jeritan Senator Cliff dari dalam apartment, dan tak mungkin ada orang yang masuk bisa tak melihat pergulatan tersebut...”

Petugas Cleaning Service mulai terlihat tersudut, “Aku memang tak melihatnya dan tak mendengar apapun. Aku tak memang tak mendekati kaspel dan tak melihat apapun disana, karenanya aku tak melihat korban terbunuh.”

“Jadi anda membuat alasan palsu lain?” sindir Seiji tajam, “Untuk seorang Cleaning Service anda tak mungkin tak mendekati kaspel mini atau sekedar melewatinya, karena anda tahu sendiri kaspel dekat dengan serambi yang terbuat dari kaca. Seorang Cleaning Service diwajibkan membersihkan semua kaca jendela ataupun pintu di apartment ini. Belum lagi di daerah sekitar sini tak terdapat debu, berarti daerah sekitar sini sudah sering dibersihkan. Jika anda sengaja tak membersihkan daerah sekitar kaspel ini pada kejadian perkara, sehingga anda tak mendengar sesuatupun atau melihat apapun, anda pasti punya ‘alasan khusus’. Katakan alasan apa itu?”

“Itu untuk membuat alibi,” ujar petugas Cleaning Service sambil menundukkan wajahnya akhirnya mengaku, “Agar tak ada yang tahu aku membunuhnya di hadapan Jesus. Aku tak ingin orang seperti dia mencalonkan diri menjadi presiden. Tak ada yang menyuruhku, aku melakukannya atas dasar keinginan sendiri, bukan atas suruhan orang berkuasa manapun. Dia orang terkutuk! Minggu lalu saat aku membersihkan ruang tamu tanpa sengaja aku mendengar perbincangannya di telepon dengan seseorang. Dia menelepon seorang bos Mafia dan mengatakan jika dia terpilih maka dia akan menutupi penyelundupan sejumlah besar obat-obatan terlarang ke negara kita!”

Semua orang terkejut.

Petugas Cleaning Service itu lalu memegang kepalanya sendiri sambil menangis, “Dia manusia brengsek! Dia mau memasukkan barang-barang haram yang telah membunuh putraku ke negara ini. Ia mau membunuh lebih banyak orang lagi! Aku tak bisa membiarkannya. Aku tak mau ada pria yang kehilangannya anaknya lagi gara-gara benda haram itu. Makanya aku membunuhnya. Aku sengaja membunuhnya di kaspelnya sendiri yang tak pernah ia pakai, agar ia bisa membuat pengakuan dosa lebih dulu. Lilin-lilin itu, aku sendiri yang memasangnya, supaya ia bisa berdo’a.... supaya aku juga bisa berdo’a memohon ampun atas perbuatan terkutuk yang baru saja aku lakukan....”

Seiji menghela nafas berat. Kasus ini selesai tepat sebelum pers menerobos masuk dan menuduh kandidat lain yang berada dibalik kasus pembunuhan Senator Cliff. Ia lalu menengok ke arah jam dinding dan melotot kaget.

“JAM 2!!!!” serunya.

Semua orang ikut kaget.

“Ada apa, Sir?” tanya salah seorang anak buahnya.

Seiji menatapnya dengan pucat, “Aku sendiri belum shalat! Aish...”

“Shalat?” tanya petugas cleaning service yang kini tangannya telah terborgol.
Seiji tersenyum ramah, “Ya. Shalat, buatku berdo’a harus dilakukan setiap saat setiap waktu. Sehingga diri kita selalu terjaga dari perbuatan buruk.”

₯₯₯

Bel berbunyi, dan Dylan langsung terbangun dari tidurnya. Ia mendapati tubuhnya pegal semua karena tidur di kelas. Ia teringat akan ke bangsal perawatan untuk memeriksa keadaan Lyla.

Namun saat ia akan berdiri tiba-tiba ada seorang cewek menghalangi jalannya.

“Minggir,” ujar Dylan dingin tanpa melihat sedikitpun ke arah cewek itu.

Cewek itu sedikit cemberut dicueki oleh Dylan sedemikian rupa, tapi ia berusaha terus tersenyum manis, “Hai, namaku Nicole.”

Dylan menatap cewek didepannya dengan aneh, apa maunya cewek ini? Benar-benar membuang waktu.

“Aku ketua kelas ini,” kata Nicole tak beranjak sedikitpun, “Kau bisa kuantar keliling sekolah ini.”

“Tak perlu,” jawab Dylan ketus lalu melewati Nicole begitu saja.

Tapi Nicole tampaknya tak menyerah, ia lagi-lagi menghalangi jalan Dylan.

Sebenarnya kalau Dylan mau memperhatikan, Nicole adalah gadis yang amat cantik. Tubuhnya tinggi semampai dengan rambut pirang lurus selengan. Cowok normal manapun pasti akan hanyut dalam rayuannya. Sayangnya Dylan bukan cowok normal.
“Bagaimana kalau kau pindah tempat duduk ke sampingku saja?” tawar Nicole, “Tempat duduk di depan hanya untuk para pecundang.”

“Jadi kau menyebutku pecundang?” Dylan balas menyerang Nicole dengan dingin. Nicole sempat bergidik sesaat.

“Tidak. Aku hanya memberimu kesempatan untuk memilih, kau mau duduk denganku, atau duduk disamping pecundang payah itu...”

Dylan langsung menangkap maksud Nicole. Ia yang Ketua Biro Investigasi terlatih mengartikan makna dalam setiap perkataan, dan ia langsung mengerti ‘pecundang payah’ yang dimaksud Nicole pasti Lyla. Dylan duduk di pinggir. Kursi kosong di kelas cuma satu yaitu di disampingnya. Dan satu-satunya murid yang tak masuk kelas cuma Lyla.

“Yah... tapi terserah kamu saja!” ujar Nicole pura-pura hendak meninggalkan Lyla, “Toh si Pecundang Keras Kepala itu juga takkan bisa datang kesini lagi kok...”

Dylan langsung menahan Nicole dengan memegang lengannya.

Nicole tersenyum menang saat Dylan memegang pergelangannya erat, “Jadi kau sudah berubah pikiran...”

“Dimana Lyla?” tanya Dylan tanpa basa-basi lagi.

Nicole terkejut dan menyadari genggaman Dylan semakin keras dan mulai terasa menyakitkan, “Ba... bagaimana kau bisa..”

“Katakan saja dimana Lyla?! Mengapa kau bilang dia takkan bisa ke sini lagi?!” perintah Dylan semakin mengeraskan cengkramannya.

“Aa..a... lepaskan aku! Ini sakit tau! Aaaw!” teriak Nicole berusaha melepaskan diri. Ia tak berani menatap Dylan karena Dylan sudah menatapnya dengan tajam.
“DIMANA LYLA?!” bentak Dylan marah pada Nicole.

Kini seisi kelas mendapat tontonan baru. Putri mereka, Nicole, gadis terpopuler dan paling berkuasa di sekolah sedang di bentak oleh murid baru.

“Aaa..a! LEPASKAN!” balas Nicole, “Aku tak tahu! AAW!”

“JANGAN BOHONG! CEPAT KATAKAN SEKARANG ATAU KAU AKAN MENYESAL!”

“AKU TIDAK TAHU!” Nicole masih berusaha berbohong.

Dylan menatap Nicole dingin dan tajam menusuk, “Jangan mempermainkan aku atau kubuat tanganmu yang putih mulus ini patah!”

Nicole melihat Dylan dengan wajah pucat. Ia beralih ke teman-teman cowoknya yang masih mematung di ruangan, “Kenapa kalian diam saja! Cepat bantu aku!”

Saat cowok-cowok itu hendak membantu Nicole, Dylan balas menatap mereka.

“Dengar! Jika kalian berkomplot dengan perempuan ini untuk mencelakai Lyla, aku benar-benar bisa menuntut kalian!” serunya, “Aku sungguh-sungguh!”

Mereka pun kembali mematung lagi. Mereka tahu pasti Nicole telah mengerjai Lyla dengan sangat parah makanya jika sampai mereka membantunya, mereka pasti bisa ikut kena masalah.

“Lebih baik katakan dimana Lyla sekarang!” kecam Dylan pada Nicole semakin mengeraskan cengkeramannya sampai-sampai Nicole merasa tangannya benar-benar akan remuk.

“AARGH!!! LEPASKAN TANGANKU!”

BRUG!

Tiba-tiba ada yang mendorong Dylan ke belakang dengan keras. Cengkeramannya pun terlepas.

“Jangan kasar sama cewek!” seru cowok yang tadi mendorongnya.

“Nick!” seru Nicole saat melihat cowok yang menyelamatkannya dan langsung menyembunyikan diri di belakang cowok itu.

Dylan menatap Nick dengan marah yang semakin membara, “Aku tak peduli siapa kau, tapi jangan halangi aku!”

“Aku juga tak peduli siapa kau, tapi sampai kapanpun kau tak boleh mengkasari murid-murid disini, termasuk Nicole, karena dia adikku!”

Dylan menatap Nick benar-benar murka. Nick sampai bergidik melihat tatapan Dylan, seolah Dylan akan melahapnya hidup-hidup.

“Kalau dia adikmu, suruh dia bicara! Tanyakan padanya dimana Lyla!”

Nick menoleh pada Nicole dengan tatapan malas, “Nicole, apa lagi yang sudah kau lakukan pada Lyla?”

Nicole semakin tersudut, “Aku tidak melakukan apa-apa padanya, Nick! Apa kau tak percaya padaku?”

“Nicole, kumohon jangan main-main...” pinta Nick, “Sudah kukatakan tolong jangan ganggu Lyla!”

“Kenapa kau menuduhku?!” teriak Nicole histeris, ia mulai terpojok, “Aku tak melakukan apa-apa pada dia!”

“Ingat!” Dylan menekan suaranya, “Aku bisa menuntutmu! Jika terjadi apa-apa pada Lyla, aku bisa membuatmu membayarnya lewat hukum. Bahkan jika kau hanya menyentuh sehelai rambutnya kupastikan kau akan menyesal!”

Nicole pucat.

Seorang cewek yang duduk di ujung hendak buka suara, “Sebenarnya Lyla ada di...”
“DIAM KAU GABY!” bentak Nicole hendak membungkam mulut temannya.

Gaby, cewek itu, langsung tutup mulut.

“Nicole...” desah Nick lelah.

Dylan heran, bisa-bisanya satu kelas takut pada seorang remaja perempuan yang masih ABG. Ia sadar Nicole tipe cewek yang bisa melakukan apapun yang di luar batas kewajaran, ia berusaha mendesak Nicole lagi, “Kau tahu dimana Nicole. Kau tahu namun kau menyembunyikannya, berarti kau melakukan sesuatu padanya. Jangan sampai aku menemukannya sendiri, karena tak lama kemudian aku akan membawamu ke kantor polisi....”

Dylan lalu memandangi Gaby.

“Beserta komplotanmu!”

“Kau bercanda?” tanya Nick.

Dylan memandangi Nick dalam, “Kau lihat aku sedang bercanda sekarang?”

“Tidak! Kau takkan menemukannya!” seru Nicole, “Aku takkan mengatakan apapun dan kau takkan pernah menemukannya.”

“Kau berniat membunuhnya?!” Dylan balas membentak, “Kau sudah melakukan pelanggaran hukum! Jangan pikir karena kau dibawah umur kau akan mendapat keringanan! Aku akan memastikan bahwa kau akan mendapat hukuman yang berat!”

“Tunggu!”

Semua menoleh ke arah sumber suara. Seorang murid bertubuh kecil, dengan kacamata minus tebal, rambut merah kriting dan kulit berbintik.

“Se...sepertinya a..aku tahu dimana Ly...lyla...” ujarnya pelan.

Nick menghampiri murid tersebut, “Kau tahu dimana Lyla, Larry?”

Larry mengangguk pelan sekali. Tubuhnya gemetaran hebat, “A...aku melihat ni... Nicole dan teman-te...temannya mendorong Lyla ke sebuah ruangan di gedung sebelah... ti... tiga hari yang lalu...”

“Tiga hari lalu?!” seru Dylan kaget. Ia menatap Nicole penuh amarah, kemudian memalingkan mukanya, “Siaaaaal!”

Ia lalu menarik Larry bangun dari kursinya sampai hampir saja Larry terjungkal.

“Antarkan aku cepat!”

“Tunggu!” tahan Nick.

Dylan menatap Nick kesal, “Apa lagi?!”

“Aku ikut,” ujar Nick, “Aku Ketua Murid, aku bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada semua murid-murid disini...”

“Terserah kau saja,” ucap Dylan ketus dan langsung pergi meninggalkan kelas dengan Larry yang terseret-seret mengikuti dari belakang, juga Nick yang menyusul sambil menggumamkan sesuatu.

“Apalagi jika itu berurusan dengan Lyla...”

Di kelas Nicole mengepalkan erat menatap kepergian Dylan, Larry, dan Nick. Awas kau Lyla! Gemuruhnya dalam hati, aku selalu mendapatkan apa yang kumau!
Sesosok gadis cilik terlihat kebingungan dengan keadaan sekitarnya. Asap mengepul, menyelimuti keseliling. Ia ketakutan karena tiba-tiba rumahnya dilalap api, sementara ia ada di tengah-tengahnya. Tanpa ia sadari di atasnya kusen atap yang rapuh karena terbakar sebentar lagi akan menimpanya.

BRAK!!!

Gadis cillik itu terlempar. Ada yang mendorongnya hingga jatuh. Itu kakaknya yang telah menyelamatkannya dari jatuhnya kusen.

“Kau tak apa-apa?” tanya kakaknya. Ia memeriksa seluruh tubuh adiknya khawatir, “Tak ada yang terluka kan, Lyla?”

Gadis cilik yang dipanggil Lyla itu lalu menunjukkan punggung tangannya dengan mata berkaca-kaca, “Tanganku perih kak. Tadi terkena api di kamar...”

Kakaknya meniup tangannya yang terluka dengan lembut, setelah itu mengusap air mata yang mulai mengalir ke pipi adik satu-satunya, “Ssst... jangan menangis... ada kakak disini... kakak akan melindungimu...”

“Kevin! Lyla!” seru seseorang dari balik kobaran api. Orang itu nekat menerobos demi menemui kedua kakak beradik yang terjebak di tengah-tengah ruangan.

“Ibu!” seru Lyla hendak menyusul orang yang berlari ke arahnya. Namun buru-buru ditahan Kevin, kakaknya.

Ibu mereka berdua datang dengan membawa dua ember air. Ia lalu melepas mantelnya ketika sudah berada di dekat Kevin dan Lyla.

“Pakai ini!” suruhnya. Ia memakaikan mantelnya ke Kevin.

“Bu...” Kevin tampaknya tahu apa yang akan dilakukan ibunya, “Bu... aku tak bisa. Tak mungkin, aku tak bisa pergi dari sini tanpa ibu. Aku juga akan melindungi ibu.”

“Pakai sajalah dan peluk adikmu!” suruh ibunya lagi, kali ini lebih tegas.

“Tidak... bagaimana bisa. Aku tak mau! Ibu saja yang pakai mantel ini bersama Lyla dan pergi dari sini!” seru Kevin berusaha melepaskan mantel yang dipakaikan ibunya, “Aku akan ke ruang tamu. Menolong ayah...”

“Jangan membantah!” bentak ibunya, “Kau harus pergi bersama Lyla, keluar dari tempat ini! Cari tempat aman dan tunggu kami! Kau mengerti?”

Kevin terdiam. Tangannya mengepal erat.

“KAU MENGERTI?!”

Kevin buru-buru mengangguk. Ia menunduk dalam-dalam. Hatinya berkecamuk, bagaimana bisa ia sebagai lelaki yang sudah cukup dewasa namun tak mampu melindungi ibunya sendiri. Kodratnya sebagai lelaki ingin melawan, namun ia sadar naluri seorang Ibu untuk melindungi anaknya lebih besar.

“Kakak, Ibu jangan berantem...” pinta Lyla yang mendengar nada tinggi dari kedua orang yang disayanginya, gadis kecil itu juga cukup tersentak melihat kakaknya yang keras hatinya menangis! “Kakak... kakak jangan nangis. Ibu gak maksud jahat kok ama kakak... Kakak jangan nangis.”

Kakaknya tak mengucapkan apa-apa. Ia malah jongkok dan langsung memeluk Lyla erat dan membenamkannya dalam mantel yang ia pakai.

BYUR!

Ibu mereka telah mengguyur Kevin dan Lyla dengan kedua ember air itu tanpa menyisakan sedikit pun untuk dirinya. Baginya keselamatan kedua anaknya adalah hal paling utama. Dan mantel basah itu akan membuat anaknya selamat dari kobaran api.

“Sekarang pergilah,” pinta ibunya, “Jangan lewat pintu belakang, karena tempat itu sudah habis. Kamu harus lewat pintu utama. Saat melewati ruang tamu, jangan berhenti. Terus saja.”

“Ibu...” desah Kevin lirih terlihat enggan beranjak pergi. Ia sudah meletakkan Lyla dalam gendongannya.

“Pergilah sebelum mantel itu kering!” seru ibunya, “Dan kau harus jaga Lyla! Kau harus janji itu pada ibu! Sekarang cepat pergi!”

Kevin mendekap erat Lyla kemudian berlari meninggalkan
tempat ibunya yang berdiri dalam diam. Terus berlari dan berlari hingga sampai di ruang tamu.

Ia ingat ia tak boleh berhenti berlari tapi dirinya terpaku melihat seseorang menodongkan pistol ke arah ayahnya.

“Ayah!” seru Lyla yang melihat ayahnya.

Ayahnya dan kedua pria termasuk yang menodongkan pistol sontak menengok ke arah Kevin dan Lyla yang berdiri tak jauh dari mereka.

“Kevin, Lyla! Apa yang kalian lakukan disini!? Cepat pergi!” seru ayahnya panik.

“Oh... jadi kalian anaknya Albert ya?” ujar pria penodong pistol itu sambil menyeringai, pistolnya perlahan mulai di arahkan ke Kevin, “Baguslah... aku memang menginginkan Albert merasakan lebih dulu bagaimana pedihnya kehilangan orang yang dicintai.”

“Tidak... kumohon jangan, bunuh saja aku Will! Jangan mereka!” pinta ayahnya Kevin dan Lyla memelas. Ia kembali menoleh ke Kevin, “Kau! Cepat pergi!”

Kevin tersadar dan ingin buru-buru berlari. Namun kakinya terasa membeku melihat pistol yang ditodongkan ke arah mereka.

“Will, hentikan!” seru salah seorang pria lagi di ruangan itu, “Perjanjian kita hanya membalas dendam pada Albert! Jangan menghilangkan nyawa orang yang bersalah!”

“Tidak... ini tidak adil... kau sudah membunuh satu-satunya orang yang kucintai seumur hidupku, Albert. Dengan begitu kau juga sudah membunuhku,” ujar pria penodong yang sudah menarik platuk pistol.

Kevin terdiam. Ia benar-benar mematung tak mampu bergerak. Ia memejamkan matanya.

DOR!

Kevin terkejut mendapati dirinya tak apa-apa. Ia melihat Lyla yang juga baik-baik saja dan menyadari bahwa bukan dirinya yang terkena tembakan itu. Tapi ayahnya.

“Ayah!” serunya, ia ingin menghampiri ayahnya yang sudah menjadi tameng dirinya.

“Aaarggh! Sial!!!” teriak pria penodong pistol kecewa berat, “Albert bodoh! Padahal aku ingin kau menyaksikan kematian orang yang kau cintai dulu!!!”

Kevin menatap pria penodong dengan marah, “Kau sudah membunuh ayahku!”

“Memang benar anak setan! Aku sudah mengirimnya ke neraka, dan sebentar lagi kau dan adikmu akan menyusul...” balas pria penodong pistol kembali mengarahkan lubang pistolnya ke arah Kevin.

“Will hentikan!” seru pria satunya lagi. Kali ini giliran dia yang menjadi tameng untuk Kevin, “Jangan membunuh mereka. Ini tak ada dalam perjanjian!”

“Minggir J! Kau menghalangiku!” bentak Will, si pria penodong pistol, “Kau tahu aku takkan segan-segan membunuhmu. Kau tak ada gunanya lagi buatku!”

Si pria yang menjadi pelindung Kevin dan Lyla tak bergeming. Ia berbisik pelan ke Kevin, “Dasar bodoh! Pergilah! Kau mau pengorbanan ayahmu untukmu sia-sia? Pergilah cepat!”

“MINGGIR J!” bentak Will.

Kevin menggunakan kesempatan itu untuk lari. Ia berlari sekencang-kencangnya, tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.

DOR!

Lagi-lagi terdengar bunyi tembakan. Namun Kevin tak mau melihat, sedangkan Lyla melihatnya. Dari balik bahu Kevin Lyla melihat pria yang tadi melindungi dirinya dan kakaknya sudah roboh. Dan kini pistol si pria penodong kembali mengarah tepat ke punggung Kevin!

₯₯₯

Tak lama setelah tiba di kamar, tempat pertama yang dituju Dylan adalah komputernya. Dia langsung menyalakan komputer yang dia taruh dalam keadaan standby dan langsung muncul kotak password. Tangannya langsung bergerak memasukkan password yang panjangnya 30 karakter!

Komputernya memang dipasang proteksi berlapis dikhawatirkan tangan jail Lyla atau Mom iseng mengotak-atik komputernya dan mengacaukan susunan data virus yang sedang dia kerjakan. Karena pekerjaan sampingannya adalah sebagai Hacker dan pencipta Virus Komputer. Namun kebanyakan virus yang dibuat bukan buat menginfeksi jaringan, melainkan sebagai koleksi pribadi.

Lalu pekerjaan utamanya adalah...

Dylan membuka inbox e-mail. Langsung muncul lagi kotak password. Namun kotak password ini berbeda, jika dalam 10 detik tidak dimasukkan password yang benar, seluruh isi e-mailnya akan terbakar. Dan kalau dia salah memasukkan password, akan ada alarm tak terlihat di kamarnya yang langsung terhubung ke Department tempat dia bekerja sekarang, dan tak lama kemudian satu unit SWAT akan datang ke kamarnya sekarang. Tapi itu tak pernah terjadi.

Memang kelihatannya sangat rumit, tapi Dylan sendiri yang memasangnya. Karena ia tak ingin ada yang tahu isi e-mail ‘top secret’ nya. Karena ia tak ingin Mom yang phobia polisi tahu kalau sebenarnya dia adalah anggota FBI.

Dylan sudah menjabat menjadi anggota FBI sejak lama, dan sejak dua tahun yang lalu dia mendapat kepercayaan menjabat sebagai Ketua Biro Investigasi merangkap Ketua Biro Cyber Crime. Itu semua berkat kejeniusannya yang diturunkan dari Ayahnya, Johnny McMillan.


Saat inbox e-mail berhasil dia buka, ia tersentak melihat banyaknya e-mail yang masuk. Ia lalu membuka e-mail yang paling pertama datang:
Sir, senator Amerika Serikat, Senator Greg Cliff terbunuh sore ini sekitar jam 05.00 petang. Presiden meminta kasus ini dibereskan sebelum tercium wartawan karena Senator Greg merupakan salah satu kandidat Presiden Amerika Serikat pada Pemilu lusa di Amerika. Dikhawatirkan dugaan pembunuhan mengarah ke Presiden. Kami berusaha semampunya menahan wartawan, tapi kami butuh secepatnya kedatangan anda disini!
Derek Gibson
Wakil Ketua I Biro Penyelidikan


Dylan mendesah. Apa sih kerja mereka selama ini?! Rutuknya kesal dalam hati. Pasti anak buahnya sekarang sangat panik. Tanpa perlu dibaca lagi, semua e-mail baru di inboxnya pasti dari Derek semua. Siaal! Ini semua gara-gara Mom, harusnya aku sudah membaca e-mail ini dari tadi.

Dia melirik ke arah jam dinding. Jam 08.00 malam. Tak mungkin mereka sanggup melokalisir TKP dalam 2 jam kedepan, sementara ke Amerika butuh waktu 3 jam paling cepat. Hal yang paling mungkin naik jet, hanya memakan waktu 1 jam. Tapi, Mom pasti takkan mengijinkanku menggunakan jet pribadi miliknya lagi! Aarrgghh... kenapa mesti sekarang sih kasus ini tiba!!!

Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Dylan buru-buru menyembunyikan tampilan e-mail nya dan menggantinya dengan susunan data virus.

“Masuk...” ujar Dylan ketika ia merasa sudah aman, “Aku tak mengunci pintu.”

Pintu terbuka dan yang pertama terlihat adalah kepalanya Mom yang menyembul masuk lebih dulu memastikan anaknya sedang tidak ngambek berat. Setelah dipastikan tak ada sesuatu yang pecah di kamar Dylan, Mom masuk.

“Dylan, Mom bawa Spaghetti Minestrone kesukaanmu...” kata Mom sambil duduk di kasur Dylan.

“Taruh itu di meja Mom, nanti mengotori spray ku!” sahut Dylan yang tak mengalihkan pandangannya dari komputer.

“Iya... iya, Mom membawakan ini untukmu lho!” balas Mom meletakkan piring spaghetti ke meja kecil di samping kasur Dylan, ia memandang anaknya, “Dylan...”

“Hmm...?” tanya Dylan pura-pura sibuk.

“Bagaimana? Kau setuju berangkat ke Carlisle?”

Soal itu aku bahkan belum sempat memikirkannya! Gumam Dylan dalam hati. Ia langsung berpikir, apa Mom akan mengizinkanku menggunakan jet ya? “Mom...”

“Ya sayang?” sahut Mom kelihatan ceria. Ia berharap mendapatkan jawaban bagus dari anaknya.

“Apa Dylan boleh pinjam jet untuk satu malam ini saja?”

Raut muka Mom berubah, “Jet? Buat apa?”

“Dylan ada keperluan yang sangat mendesak di Washington...”

“Washington?” tanya Mom kelihatan tidak senang, “Baru minggu lalu kamu pulang dari China Dylan, dengan alasan yang sama. Sekarang mau pergi lagi.”

Itu kan waktu kasus penyelundupan manusia... tentu saja sangat mendesak juga, pikir Dylan.

“Mom takkan mengizinkannya!” seru Mom, “Kau pasti ingin kabur kan?!”

“Tidak Mom...” Dylan mendesah.

“Waktu kau pergi ke Paris bulan lalu, kau bilang hanya 3 hari! Tapi ternyata 3 Minggu lebih kau disana. Mom takkan percaya lagi denganmu...”

Kasus ancaman bom Eiffel, Dylan masih mengingatnya dengan tajam, Tentu saja! Mom tidak tahu betapa susahnya menemukan bom itu! Ternyata bom ditanam dibawah menara Eiffel, dan butuh waktu lama buat mendapat izin menggali, belum waktu menggalinya... ffiuh...

“Jadi kamu tak boleh kemana-mana!” perintah Mom, “Mom sudah menghubungi Kepala Sekolahnya Lyla, kamu akan berangkat ke sana besok lusa!”

Dylan membelalak kaget, “Besok lusa?!”

Mom tersenyum menang, “Iya! Kalau Mom tunda-tunda lagi kau pasti punya banyak alasan buat menghindar! Tidak! Besok lusa kamu berangkat! Hari ini, kamu mesti di rumah!”

“Ta...tapi...”

“Sudah ya! Kamu harus tidur yang cepat my dear, besok kamu harus mulai siap-siap...” ujar Mom bangkit dari kasur.

Dylan melongo. Cepat-cepat ia muter otak... Hff.. apa boleh buat, “Mom!”

“Apa?” tanya Mom yang sudah tiba di pintu.

“Dylan setuju pergi besok lusa, tapi Dylan boleh pinjam jet nya?”

“Kan Mom sudah bilang Mom takkan meng..”

“Bukan buat Dylan,” potong Dylan cepat-cepat, “Urusan Dylan kali ini sangat mendesak jadi Dylan akan kirim orang buat menggantikan Dylan disana. Dylan minta izin terbang Mom buat teman Dylan.”

Mom terlihat berpikir.

“Orangnya bisa dipercaya kok! Lagipula dia gak bisa nerbangin pesawat, jadi Mom tenang saja, dia gak bakal mencuri pesawat Mom,” tambah Dylan lagi buat meyakinkan.

“Ya sudah... terserah kamu saja! Yang pentig Mom lihat kamu gak keluar rumah selama dua hari ini.”

“Ya, ya,” balas Dylan kesal. Ah... anggota FBI yang payah sekali aku ini... pikir Dylan hati, bahkan aku masih nurut diperintah sama ibu sendiri.

Ketika Mom hendak keluar, ia mendengar Dylan menggumam.

“Apa sih hutang kita ke dia, sampai-sampai aku harus berkorban banyak begini! Merepotkan..”

Banyak sayang, batin Mom, banyak sekali, “Dylan...”

“Ya...” sahut Dylan enggan.

“Mungkin ini bakal bikin kamu sedikit bersemangat sekolah disana, Convinient High School, tempat Lyla sekolah, adalah tempat ayahmu dulu juga bersekolah...”

Dylan menengok ke arah Mom, “Dad?”

Mom mengangguk ia lalu keluar dan menutup pintu, “Good Night, honey...”

Dad? Renung Dylan, Dad yang selama ini menghilang. Jika aku kesana mungkin aku akan mendapatkan petunjuk lagi tentang keberadaan Dad selama ini...

Tiba-tiba Dylan teringat akan e-mail nya yang terlantar. Buru-buru ia menulis e-mail balasan:


Derek, jangan tempatkan banyak unit disana karena akan tercium oleh pers. Sebaiknya suruh penghuni rumah melakukan kegiatan sebagaimana biasanya supaya tidak ada kecurigaan dari pers. Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa datang kesana. Tapi aku akan kirimkan orang yang akan menggantikanku. Selama aku tidak ada, kalian harus menuruti semua yang dikatakannya, seperti kalian menurutiku.
Dylan McMillan



Dylan menghela nafas, dia paling benci menjadi tidak profesional tapi dia terpaksa. Bagaimanapun juga meski dia Ketua Biro Investigasi FBI yang malah sering disuruh melaksanakan tugas biro-biro yang lain, tetap saja dia hanya pemuda 18 tahun yang dibebani amanah terlalu berat. Kadang ingin sekali dia memberitahu Mom tentang pekerjaannya, tapi Mom phobia polisi. Bahkan menghadapi Polisi lalu lintas saja Mom gemetaran, bayangkan kalau dia tahu selama ini dia satu rumah dengan anggota FBI.

Masih ada satu hal lagi yang harus dia kerjakan. Dia tersenyum. Tangannya menulis suatu kombinasi kode dan lalu menekan tombol enter.

“Send...!” desisnya pelan. Dia lalu menghitung pelan dalam hati. Lima... empat... tiga... dua... satu...

Tiba-tiba muncul kotak chat, tertulis:

Seiji : Webcam cepat!!!!!

Dia tersenyum puas. Ia langsung mengaktifkan webcam, dan muncul wajah seorang pemuda jepang di layar komputernya.

“KAU APAKAN KOMPUTERKU!!!” teriak pemuda itu kelihatan marah.

Dylan masih tersenyum, “Hai, Seiji-chan! Aku lihat di jaringan kau sedang online. Mengganggu sedikit tak masalah kan...”

Pemuda jepang yang dipanggil Seiji itu hanya mendengus, “Katakan saja apa maumu, dan cepat kembalikan seluruh file-fileku yang kamu habisi oleh virus.”

“Tenang saja. Seluruh filemu ada padaku, aku sengaja merancang virus pengcopy file, hebat kan?”

“Apanya, virusmu berhasil ditangkap oleh firewall milikku, meski dataku jadi hilang semua,” sergah Seiji.

“Memang belum 100% jadi, aku merancangnya untuk mengcopy data dalam waktu 0.01 micro mili detik, kemudian terkirim langsung ke aku, dan menghilang seperti hantu,” ujar Dylan seperti biasanya berubah menjadi semangat ketika membicarakan tentang virus buatannya.

“Kau ciptakan buat siapa virusmu itu?”

“CIA,” jawab Dylan enteng.

“CIA!?” seru Seiji kaget, “Anak kecil seperti kamu buat apa main-main dengan CIA?! Kau bisa membuat FBI jatuh dalam masalah besar tau! Jangan sia-siakan kepercayaanku padamu!”

“Soalnya aku kesal tau!” balas Dylan, “Kau jangan pura-pura tak tahu kalau CIA sering sekali mengambil alih kerja kita dalam beberapa kasus, dan setiap kali mereka mengerjakan kasusnya seperti selesai padahal sebenarnya buntu ditengah jalan dan menggantung tak jelas. Masyarakat selama ini dibodohi. Pimpinan juga dibodohi.”

“Aku tahu. Tapi kita tak bisa sembarangan bertindak, ada kekuatan besar menaungi mereka. Sampai kita tahu pasti apa itu, dan kita tau resikonya, tahan dulu tindakan kita.”

“Yah... tenang sajalah, lagipula selama setahun ini aku juga tak bisa menyelesaikan virus ghost itu,” ujar Dylan sambil mendesah pelan.

“Kenapa? IQ mu menurun drastis?” tanya Seiji ngasal.

“Bukan!” jawab Dylan kesal, “Ini semua gara-gara Lyla.”

“Lyla tunanganmu? Kenapa dia? Jangan bilang kalau dia anggota CIA!” seru Seiji ngaco.

“Ya bukanlah!” balas Dylan, kemudian berpikir, “Apa mungkin iya, ya? Siapa tahu dia anggota CIA yang dikirim untuk mengacaukan tugasku. Asal-usulnya kan tidak jelas, mungkin dia menggunakan hipnotis khusus agar Mom terpikat dan memungutnya lalu membawanya ke rumah ini.”

“Hey, itu mustahil. Kenapa jadi kau yang berpikiran kacau? Katamu Lyla dipungut orang tuamu sejak 10 tahun yang lalu. Berarti saat itu usianya masih 7 tahun, tak mungkin semuda itu sudah direkrut jadi anggota CIA. Kau ini ternyata bodoh ya?” sahut Seiji.

“Kan aku hanya bilang ‘mungkin’. Aku hanya bikin analisis palsu, soalnya dia membuatku stres berat!”

Seiji geleng-geleng kepala, “Lalu sebenarnya permasalahanmu apa?”

“Apa kau menggantikanku selama setahun. Menjabat kembali?” tanya Dylan tiba-tiba.

“Hei, kau ini!” seru Seiji.

“Ya, Mom minta aku menyusul Lyla ke Convinient High School besok lusa, sementara aku ada kasus mendadak. Kau kan tadi mau membantuku...” jelas Dylan.

“Aku tidak bilang mau membantumu!” sergah Seiji, “Aku cuma tanya permasalahanmu! Jangan mengartikan lain!”

“Sore tadi Senator Amerika Serikat yang akan mengikuti Pemilu terbunuh. Presiden memaksa FBI untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya sebelum ketahuan pers,” Dylan menerangkan tanpa peduli perkataan Seiji, “Bagaimana? Kau tertarik?”

Seiji menggeleng, “Tidak. Aku tidak bisa meninggalkan istriku. Kau tahu, dia sedang hamil sekarang.”

“Hah? Heo Yi Jae hamil?” Dylan teralihkan, “Berapa bulan?”

“Baru 3 bulan,” cengir Seiji.

“Jadi kau mau membantuku?” Dylan langsung mengembalikan topik.

Seiji menghela nafas, “Kau ini keras kepala sekali! Aku tak mungkin melakukan itu. Aku sudah berjanji pada Yi Jae untuk tak berhubungan lagi dengan Yakuza ataupun FBI. Mengertilah aku sedikit...! Bahkan kalau istriku tahu, Dylan temanku ini ternyata anggota FBI, aku bisa mati!”

“Jadilah lelaki!” ledek Dylan, “Jangan mau diatur sama istrimu itu terus, dan jangan jadi suami takut istri. Bahkan kau mundur dari FBI karena takut pada istrimu, menyedihkan.”

“Bukan takut, tapi sangat mencintai! Aku tak bisa membahayakan dia lagi. Kamu jangan memaksaku. Kembalikan saja file-ku dan tidurlah! Bocah sepertimu tidak pantas tidur larut,” Seiji balas menyindir.

Dylan tidak menyerah, “Kau memaksaku melakukan cara itu ya?”

“Apa?” tanya Seiji khawatir. Pemuda yang dihadapannya biar bagaimanapun punya otoritas melebihi dirinya saat ini.

“Kau pasti lebih tahu dari aku kalau aku punya kuasa,” ujar Dylan, tepat seperti apa yang dikhawatirkan Seiji, “Dalam hitungan detik aku bisa menelepon kantor pusat dan meminta mereka mengirimkan satu unit SWAT ke rumahmu. Dalam beberapa jam, SWAT akan tiba di rumahmu dan menangkapmu atas tuduhan terlibat dengan Yakuza, lagi, dalam kasus tranksasi Narkoba antar benua. Di hadapan istrimu. Aku menamainya ‘Operasi Menyeret Anak ke Sekolah.’”

Seiji pucat pasi. Di belakangnya terdengar salam khas Muslim untuk masuk rumah. Itu pasti istrinya. Dia semakin terjepit dan takkan sempat mengelak.

“Bagaimana? Akan kujalankan ‘Operasi Menyeret Anak ke Sekolah’ tepat saat kau mematikan sambungan,” tambah Dylan kali ini dengan menggunakan Bahasa Jepang untuk memainkan psikologi Seiji.

“Ok! Ok! Ok!” seru Seiji kesal dan buru-buru, ia takut perbincangannya didengar istrinya. Ia menggerutu, “Memang harusnya aku tak mempercayai jabatanku ke anak 15 tahun sepertimu.”

“Aku sudah 18 tahun!”

“Hanya 1 tahun ingat? Jangan lewat. Aku tak mau Yi Jae tahu aku berhubungan lagi dengan FBI.”

“Iya boss, 1 tahun, aku juga berusaha secepatnya menyelesaikan urusanku di sekolah Lyla. Aku takkan mau lama-lama disana.”

“Bye,” ujar Seiji hendak mematikan webcam nya namun teringat sesuatu, “Hey, kembalikan file-fileku juga!”

“Iya tenang saja, Bye.”

Webcam mati, kini wajah Seiji menghilang dari layar dan Dylan sendiri lagi. Ia menghela nafas. Merepotkan! Gerutunya dalam hati, namun mau tak mau ia penasaran juga, Lyla... seperti apa dia sekarang?
Seorang gadis cilik duduk termangu di padang rumput halaman rumahnya. Ia menatap bulan dan teringat cerita seram yang di dongeng kan kakaknya.

“Jika bulan berubah warna menjadi merah darah berarti di suatu tempat sedang terjadi pembantaian, banyak orang yang meninggal di malam ketika bulan berwarna merah darah...”

“Benarkah? Berapa banyak?”

Sang kakak terlihat berpikir keras, “Mmmm... mungkin 100 orang...”

Gadis kecil itu membelalakkan matanya, “Seratusss?”
“Mungkin juga seribu... pokoknya banyak!”

“Kakak... jangan menceritakan cerita seram pada adekmu!” seru Ibu mereka berdua melihat perubahan warna wajah si gadis cilik.

Sang Kakak hanya tersenyum kecil.

Bayangan masa lalu dalam benak gadis kecil itu sirna, saat ia menatap rumahnya dari kejauhan. Api yang ganas sedang melahap rumahnya dan tak mau berhenti. Dari sana terdengar jeritan kesakitan. Tak hanya satu, banyak. Ia tahu, mungkin itu jeritan Ibunya, Ayahnya, Pamannya, Bibinya, Sepupu-sepupunya, pembantu-pembantunya yang juga tinggal bersama dengannya di rumah besar yang kini sedang diselimuti monster merah. Monster merah panas telah melahap mereka semua, dan tak melepas orang-orang yang ia sayangi itu sampai mereka menjadi abu. Tapi ia tahu tak ada jeritan kakaknya di sana, karena kakaknya sedang ada disampingnya sekarang. Terbaring kaku.

Tak lama terdengar suara sirine meraung-raung dari kejauhan. Gadis kecil itu kembali menatap bulan. Malam ini bulan berwarna merah darah.

₯₯₯

10 tahun kemudian....

Pemuda itu menghabiskan makanannya dengan lahap tanpa mempedulikan tatapan jengkel wanita paruh baya di seberang mejanya. Dia mulai beralih ke dessert.

Di meja terhidang berbagai jenis makanan mewah yang belum tentu bisa dicicipi seorang Ratu sekalipun namun tampaknya si wanita paruh baya itu tak berminat menikmatinya.

“Dylan, tak bisakah kau mendengarkan permintaan mom kali ini saja?” ujar wanita paruh baya itu.

Dylan menggeleng dengan santai.

“Kenapa?”

“Permintaan mom konyol,” ujarnya.

“Konyol? Mom cuma minta...”

“Mom, Foie Gras ini rasanya lezat sekali,” sela Dylan tiba-tiba. Jelas ia tak mau mendengar permintaan apapun yang keluar dari mulut ibunya, “Jangan sia-siakan kerja keras Alfred untuk menyiapkan makanan selezat ini untuk kita.”

Mom merengut. Tahu bahwa takkan segampang itu menaklukan anaknya yang keras kepala.

“Dan dessert Bird’s Nest Cream ini sangat lembut, mom akan menyukainya,” tambah Dylan mengisyaratkan ke dessert yang dia makan.

“Mom ga lapar,” jawab Mom ketus. Enak saja! Pikirnya, kau pikir bisa lolos lagi malam ini?

“Bohong. Mom pasti lapar,” bantah Dylan, “Alfred bilang kalau mom sudah tiga hari tidak menyentuh makanan, dan ini dinner pertama kita setelah seminggu mom sibuk di kantor.”

Mom menatap Alfred, Kepala Pelayan rumahnya yang tersenyum simpul di sudut ruangan, dengan sebal.

“Makanlah...” pinta Dylan.

“Tidak mau!” sergah Mom.

“Kenapa Mom bersikap kekanak-kanakkan seperti itu?” tanya Dylan mulai kesal.
“Kau tahu dengan pasti kenapa!”

Dylan yang sudah selesai dengan dessert-nya, mengusap mulutnya lalu berdiri, “Aku sudah selesai.”

“Dylan!” Mom hampir histeris.

Tapi Dylan hanya menatap Mom dengan dingin, dan beranjak pergi.

Mom tak membiarkan Dylan pergi, ia mengikuti anak semata wayangnya itu, “Apa kau lebih mementingkan ego-mu dibandingkan Mom? Begitu? Kau lebih senang melihat Mom mati kelaparan?”

“Mom takkan sampai seperti itu,” ujar Dylan dingin yang beranjak naik tangga menuju kamarnya di lantai dua.

“Kau benar-benar tak mau mendengarkan permintaan Mom??! Meskipun mungkin ini akan menjadi permintaan terakhir dari Mom....?”

Dylan terdiam di anak tangga.

Seperti mendapat rambu hijau, Mom mendekati anaknya, “Dylan... Mom mohon...”

“STOP IT!” bentak Dylan tiba-tiba. Ia berbalik memandang Mom dengan marah, “Aku mendengarnya! Semuanya, dari 10 tahun yang lalu, semua permintaan-permintaan itu... aku benar-benar muak, Mom! Mom pikir Dylan tidak tahu apa yang Mom pinta kali ini?!”

Mom terpaku. Baru kali ini dia melihat Dylan yang benar-benar marah.

“Mom mau Dylan menyusul dia kan? Mom mau Dylan pergi ke tempat dia berada sekarang? Memangnya dia buat masalah apalagi?”

Mom diam.

Dylan mulai terbakar emosi, “Gadis pungut itu! Apa yang dia mau kali ini? Dia membuat onar di sekolahan dan butuh penyelamat? Atau dia butuh pangeran tampan yang menemaninya ke acara prom nite? Wajar saja! Takkan ada lelaki yang mau berkencan dengan gadis menyebalkan, magnet masalah, keras kepala, dan pembawa sial seperti dia...”

“Jaga mulutmu Dylan McMillan! Lyla bukanlah gadis pembawa sial!” seru Mom.

“Then? Setidaknya dia jelas-jelas membawa sial buatku!”

“Kamu orang yang intelek Dylan, kamu tahu pasti kalau tak ada yang namanya kesialan di muka bumi ini!”

“Untuk yang satu ini aku percaya...” ujar Dylan lagi yang siap-siap mau kembali ke kamarnya.

“Setidaknya Mom juga lakukan ini buat kamu, My Dear...” lanjut Mom yang masih tak mau menyerah.

Dylan mendengus, “Buatku? Dari segi apa? Mom, banyak hal yang sudah Dylan korbankan buat dia. Tak ada satupun yang mendatangkan faedah buatku! Dia sudah merebut semuanya dari Dylan.”

“Mom mau kamu bersekolah agar bisa seperti anak normal lainnya!” jelas Mom, “Mom tidak mau melihat seumur hidupmu kamu hanya menghabiskannya di kamar, dan bergaul dengan orang-orang tak jelas. Mom tak mau kamu hanya terpaku di depan Komputer, dan tertawa sendirian dengan komputer..., Mom sering mendengarnya. Kamu tertawa sendirian, marah, dan ngobrol dengan komputer, Mom benar-benar khawatir.”

Dylan memutar bola matanya tak habis pikir. Ia hanya mengobrol dengan orang lain lewat Web-Cam dan Ibunya sudah menganggapnya sinting.

“...Mom ingin kamu sekolah seperti anak normal...”

“Mom...,” Dylan menatap Mom dalam-dalam, “Mom lupa? Dylan gak sekolah itu Mom yang minta. Sekarang tau-tau Mom ingin Dylan sekolah disaat Dylan sudah menginjak 18 tahun?”

“Semua Ibu ingin melihat anaknya lulus dari Sekolah Negeri...” ujar Mom beralasan.

“Kalau begitu carikan Sekolah Negeri di London. Ada banyak kan? Jadi Dylan tak perlu menyusul Lyla ke Carlisle segala.”

“Tapi kan, kalau sekolah bersama dengan Lyla kamu bisa sekalian menjaganya disana...”

Dylan tersenyum sinis, “Kalau begitu benar kan? Semuanya cuma tentang Lyla. Tentang gadis pungut itu.”

Mom berusaha mencegah Dylan yang sudah membalikkan punggung dan tak tahan lagi ingin ke kamar, “Dylan... dengarkan dulu...”

Dylan pura-pura tak mendengar dan meneruskan langkahnya. Saat ia hampir menuju puncak, terdengar suara jatuh dari belakangnya.

BUG!

Ia menoleh dan mendapati Mom jatuh dari anak tangga dengan posisi yang tak menguntungkan. Buru-buru ia turun lagi dan membantu Mom berdiri, “Kenapa Mom ceroboh begitu sih!?”

“Adu...duh..,” jerit Mom ketika Dylan mengangkat tubuhnya yang jatuh terduduk. Ia memegangi kakinya dan menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca, “Apa kau baru perhatian pada Mom kalau Mom sudah terjatuh seperti ini? Apa Mom perlu terluka dulu seperti inikah?”

“Jangan mendramatisir...” ujar Dylan, “Dari posisi Mom jatuh, Mom tidak kenapa-kenapa. Paling hanya terkilir ringan di pergelangan.”

Seketika raut wajah Mom berubah, dasar tega!

“Mom pasti bisa berdiri sendiri kan?” tanya Dylan melepaskan pegangannya, “Aku masih ada kerjaan di kamar Mom, biar aku panggilkan Alfred untuk mengantar Mom kembali ke kamar...”

“Mom tidak mau!”

Dylan mendesah pelan.

“Kamu benar-benar keterlaluan Dylan, Mom hanya ingin kamu menemani Lyla... paling hanya satu tahun saja, setelah itu kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau! Mom gak akan maksa lagi, asal kamu mau melakukan permintaan Mom kali ini...” ujar Mom sendu, “Dylan... Mom mohon... kamu mau ya menghabiskan satu tahun terakhir menemani Lyla di sekolahnya Mom mohon...”

“Sebenarnya apa sih yang menyebabkan Mom sampai ngotot kayak gini? Sudah 5 tahun berjalan sejak Lyla pergi ke asrama, dan Mom tenang-tenang saja. Apa yang menyebabkan Mom berubah pikiran. Lyla baik-baik aja disana kan, jadi buat apa Dylan menyusul?” selidik Dylan heran.

“Euh... itu..., Mom tidak bisa bilang...”

“Sudahlah,” ujar Dylan capai. Ia beranjak pergi, “Alfred pasti tadi mendengar suara jatuh Mom, jadi sebentar lagi pasti dia akan kemari.”

“Mom bermimpi buruk tentang Lyla!” seru Mom berniat menghentikan Dylan dan berhasil.

“Mimpi?” tanya Dylan, “Mom menyuruh Dylan menghabiskan waktu di kota terpencil di Inggris selama satu tahun hanya karena mimpi?!”

“Dylan... kau tak mengerti!” Mom menghampiri Dylan terlihat tertekan, “Mom mimpi Lyla berada satu ruangan dengan seorang pria... pria itu...”
“Pria apa?”

Kali ini terlihat jelas Mom menyembunyikan sesuatu. Keringat dingin mengalir di lehernya, “Bukan. Bukan siapa-siapa.”

Dylan memandangi ibunya curiga. Tapi dia tak ambil pusing, “Lalu? Kalau begitu bukan sesuatu masalah besar kan?”

“TIDAK!” seru Mom, “Lyla benar-benar dalam bahaya!”

“Mom? Mom dulu pernah menyuruh Alfred dan seluruh maid menaburi sekeliling rumah dengan garam hanya gara-gara Mom mimpi rumah kita kemasukan ular!” Dylan balas berseru tak percaya, “Mimpi Mom memang selalu begitu!”
“Kali ini berbeda Dylan! Mimpi ini benar-benar nyata! Mom khawatir terjadi apa-apa dengan Lyla!”

“Memangnya kapan Mom berhenti mengkhawatirkan Lyla?”

Mom seperti tak rela, bahkan ia hampir menangis, “Dylan... Mom mohon... sekali ini saja! Sekali lagi! Setelah ini Mom tidak akan meminta apapun dari kamu. Setelah ini kamu boleh melakukan apapun sesukamu! Terserah kamu! Mom berjanji!”

Dylan diam. Ia berpikir sebentar. Kemudian ia kembali menatap Mom tajam, “Janji? Karena Dylan tak akan melupakan perbincangan kita saat ini sampai kapanpun...”

Mom mengangguk pasti, “Janji!”

Melihat tak ada keraguan di mata ibunya Dylan melengos pergi sambil berbisik pelan, namun bisa didengar, “Baiklah. Akan Dylan pikirkan dulu.”

₯₯₯

“Sialan! Lepaskan aku! Cepat buka pintunya! Atau aku akan laporkan kalian pada Kepala Sekolah!”

Terdengar suara tawa tiga orang gadis. Mereka bertiga berdiri di depan sebuah pintu tua namun terlihat cukup kuat untuk mengurung seorang gadis lagi di ruangan di balik pintu itu.

“Coba saja kalau kau bisa!” ujar salah seorang gadis itu, “Takkan ada yang tahu kau disini. Dan juga takkan ada yang mendengar teriakanmu!”

Gadis dibalik pintu masih terus berteriak, “Cepat buka, karena aku takkan memaafkanmu jika aku berhasil keluar nanti!”

“Hiiy... takut...” sahut gadis yang lain, tapi wajahnya terlihat senang.

“Silahkan, aku akan meladenimu. Tapi tampaknya kau akan lebih dulu mati beku! Hahaha!” balas gadis di yang paling tinggi di antara mereka. Dia tertawa puas, dan teman-temannya mengikuti.

Gadis yang terkurung merasa muak mendengar suara tawa mereka, namun ia semakin panik ketika suara tawa itu menjauh.

“HEY! KALIAN JANGAN PERGI! BUKA PINTU INI! JANGAN PERGI!” jeritnya. Ia berusaha mendobrak pintu dengan tubuhnya, namun sia-sia. Yang ada malah rasa ngilu menyerang bahunya yang ia gunakan untuk mendobrak pintu. Ia jatuh duduk bersandar ke pintu, air matanya menetes, “Buka... kumohon buka...”

Ia lalu memperhatikan sekeliling ruangan tempat ia dikurung. Sangat gelap... pikirnya. Apakah ini kamar mandi? Aku mendengar gemericik air. Tapi kenapa disini dingin sekali...?

Tanpa sengaja ia teringat masa lalunya yang hampir ia lupakan, dan sangat ingin ia lupakan. Tidak apa, lebih baik dingin... ujarnya dalam hati. Aku suka dingin, daripada panas. Aku sangat membenci panas. Panas itu membunuh. Dingin ini takkan membunuhku. Aku yakin.

Ia menerawang, Kakak... dimana kau sekarang? Kau bilang akan melindungiku... tempat ini dingin sekali. Aku sungguh ingin berada di pelukanmu... dimana kau...

Penglihatan gadis itu mulai kabur. Rasa dingin mulai melumpuhkannya. Ia pingsan.